Jeongjo, raja ke-22 Joseon, memindahkan makam ayahnya, Putra Mahkota Sado (kemudian dimuliakan sebagai Putra Mahkota Jangheon), yang terseret perebutan faksi dan meninggal di dalam peti beras, dari Gunung Baebongsan di Yangju ke Gunung Hwasan di Suwon. Lalu ia memindahkan pusat kota kabupaten yang tadinya dekat Hwasan ke kaki Gunung Paldalsan seperti sekarang, dan dari situlah benteng mulai dibangun. Badan Warisan Nasional mencatat bahwa pada tahun 1789 (tahun ke-13 Jeongjo) Suwon dipindahkan ke kaki timur Gunung Paldalsan, pembangunan benteng dimulai pada tahun 1794 (tahun ke-18 Jeongjo), dan selesai pada tahun 1796. Yayasan Kebudayaan Suwon menjelaskan bahwa benteng ini lahir bukan hanya dari bakti kepada ayah, tetapi juga merupakan pusat gagasan untuk menghapus politik faksi dan menjalankan pemerintahan raja yang kuat, sekaligus benteng pertahanan di selatan ibu kota.
Benteng ini mengikuti tradisi Joseon yang membangun dengan memanfaatkan bentang alam, tetapi juga memasukkan fasilitas pertahanan baru. Sarjana Silhak Jeong Yak-yong menelaah cara membangun benteng di Joseon dan Tiongkok untuk merencanakan ukuran tembok, fasilitas pertahanan, dan bahan, lalu membuat derek Geojunggi untuk mengangkat bahan berat dengan mudah serta kereta kokoh Yuhyeonggeo untuk menekan biaya pembangunan. Seluruh proses pembangunan tercatat rapi dalam laporan bernama Hwaseong Seongyeok Uigwe, lengkap dengan gambar serta ukuran dan jumlah bahannya, dan hingga kini perbaikan dan pemugaran berpedoman pada buku ini. Buku ini masuk Memori Dunia UNESCO pada tahun 2007.
Hwaseong bernilai bukan hanya karena temboknya, tetapi juga karena merupakan kota benteng yang direncanakan dan dibangun pada akhir abad ke-18. Letaknya di pusat lalu lintas yang menghubungkan Seoul dengan wilayah Samnam, dan konon di dalamnya terkandung keinginan Jeongjo untuk membangun kota yang makmur secara ekonomi serta semangat Silhak. Pada 21 Januari 1963 benteng ini ditetapkan sebagai Situs Bersejarah, dan pada tahun 1997 menjadi Warisan Dunia. Pada Perang Korea, menara gerbang Janganmun dan Changnyongmun hancur, sehingga dibangun kembali pada tahun 1975 dan 1976.